Deteksi Dini Kerusakan Gigi dan Maloklusi Berdasarkan Jenis Kelamin pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Desa Sukorejo
Keywords:
Pengabdian masyarakat, kesehatan gigi anak, karies gigi, maloklusi, madrasah ibtidaiyahAbstract
Karies gigi dan maloklusi merupakan dua masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering ditemukan pada anak usia sekolah dasar dan dapat berdampak terhadap fungsi mastikasi, estetika, serta kualitas hidup. Berbagai studi menunjukkan bahwa faktor biologis dan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan berpotensi memengaruhi tingkat keparahan maupun pola terjadinya karies gigi dan maloklusi. Namun, data epidemiologis yang menggambarkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin pada anak usia sekolah dasar di tingkat komunitas, khususnya di Desa Sukorejo, masih terbatas sehingga diperlukan kajian untuk mendukung perencanaan program kesehatan gigi yang lebih terarah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan mengetahui gambaran perbedaan kerusakan gigi (decay) dan maloklusi pada anak laki-laki dan perempuan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Desa Sukorejo, Kabupaten Gresik. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni 2025 di balai desa Sukorejo yang berdekatan dengan sekolah MI. Sasaran edukasi terdapat 37 siswa usia 9–11 tahun. Metode pendekatan deskriptif kuantitatif dan total sampling. Pelaksanaan kegiatan meliputi pengisian daftar hadir, penyuluhan kesehatan gigi, pengisian kuesioner, serta pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut yang difokuskan pada kondisi karies dan derajat maloklusi. Tingkat pengetahuan naik 100% sebelum edukasi dan setelah edukasi. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase dan hasil kegiatan menunjukkan bahwa partisipasi siswa laki-laki lebih dominan (64,86%) dibandingkan perempuan (35,14%). Kondisi maloklusi paling banyak ditemukan adalah Klas II Angle dengan berdesakan (24%), diikuti diastema (16,2%) dan Klas II Angle divisi 1 (protrusi) (10,8%), sementara oklusi normal hanya ditemukan pada 38% siswa. Kondisi kerusakan gigi juga tergolong tinggi, dengan mayoritas siswa mengalami karies 24,3% dan hanya 5,4% yang tidak mengalami karies. Kegiatan ini menunjukkan bahwa prevalensi karies dan maloklusi pada siswa MI Desa Sukorejo masih cukup tinggi, sehingga diperlukan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi dan mulut yang berkelanjutan melalui peran aktif sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan gigi.